Headlines News :

Test Footer

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label elektro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label elektro. Tampilkan semua postingan

Cara Menggunakan Multimeter yang Benar

Written By ST.pro audio on Sabtu, 05 Agustus 2017 | 03.28

Bagi para hobbi elektronika, pasti tidak lepas dengan alat yang satu ini, namanya adalah multimeter. Tanpa multimeter, akan sulit untuk melakukan pengukuran-pengukuran satuan listrik seperti ohm, volt dan ampere. Namun mempunyai multimeter tanpa bisa menggunakannya sama saja bohong, untuk itu kali ini akan dijelaskan tentang bagaimana cara menggunakan multimeter yang benar.

Multimeter adalah alat untuk memeriksa atau mengecek tegangan AC atau DC, hambatan, kondisi komponen elektronika pada rangkaian elektronika, serta arus yang cukup kecil pada rangkaian elektronika, multimeter akan memperlihatkan pada kita jika pada komponen tersebut ada tegangan atau tidak, nah dengan kegunaan seperti itu multimeter bisa digunakan dalam beberapa pekerjaan yang membutuhkan pengukuran atau mengecek kondisi tegangan pada suatu komponen elektronika.

Untuk bisa menggunakan multimeter dengan maksimal dan sesuai fungsinya maka kita mesti mengetahui cara menggunakan multimeter dengan benar. Multimeter sebetulnya mempunyai dua jenis yang biasanya di kenal oleh masyarakat, yaitu multimeter digital dan multimeter analog, perbedaannya kalau multimeter analog menggunakan jarum penunjuk yang bergerak dari kiri ke kanan pada skala pengukuran.

Sedangkan pada multimeter digital menggunakan beberapa circuit yang cukup rumit dan mengkonversi masukan dari pengukuran menjadi tampilan digital yang bisa di baca pada layar LCD nya.

Multimeter Analog (kiri) dan Multimeter Digital (kanan)


Dua jenis multimeter tersebut mempunyai keunggulan masing-masing dari segi harga, ketahanan, batas atau beban pengukuran dan lain-lain.


Cara menggunakan multimeter

Langkah pertama dalam menggunakan multimeter tentu saja kita mesti familiar dengan alat tersebut dan mempelajari fungsinya untuk mengukur ohm (hambatan), volt (tegangan) dan ampere (arus).


  • Perhatikan jarum penunjuk pada multimeter, ini menunjukan skala dalam pengukuran, dan diatasnya biasanya ada semacam permukaan yang mirip kaca yang digunakan untuk meminimalisir kesalahan pembacaan.
  • Perhatikan saklar atau knob pada multimeter, Hal ini untuk mengubah fungsi antara volt, ohm, dan ampere, dan untuk mengubah skala (x1, x10, dan lain-lain) pada multimeter. Jadi sangat penting sebelum menggunakan multimeter , di kalibrasi dan diatur dengan benar, supaya bisa menghindari kerusakan pada penggunaan multimeter dan kesalahan pada hasil pembacaannya. Beberapa multimeter mempunyai saklar “OFF” jadi ketika tidak digunakan pastikan knob multimeter di set pada posisi OFF.
  • Kemudian cari lubang pada multimeter, biasanya beberapa multimeter mempunyai beberapa lubang, yang nanti dimasukan kabel jack untuk probe atau terminal multimeter, lubang ini digunakan untuk beberapa keperluan yang berbeda.

Satu lubang biasanya diberi label tulisan “COM” atau (–), yang artinya adalah common, ini artinya adalah lubang yang akan digunakan untuk kabel probe atau terminal warna hitam. Dan hampir setiap pengukuran digunakan.

Lalu Jack yang lain biasanya di beri tanda “V” atau (+), ini biasanya nanti digunakan dalam pengukuran tegangan dan hambatan. Symbol (+) dan (-) menunjukan polaritas dari probe atau tegangan. Jadi masukan kabel jack merah pada lubang yang diberi tanda “V” atau (+) dan yang hitam pada lubang yang diberi tanda “COM”


  • Cek apakah baterai pada multimeter terpasang atau tidak, dan dalam kondisi yang baik, karena baterai ini digunakan ketika kita akan mengukur hambatan, jadi untuk mengukur hambatan bagusnya menggunakan baterai yang masih bagus pada multimeter, serta biasanya pada multimter ada sekering (fuse), dimana sekering ini digunakan untuk melindungi komponen atau multimeter tersebut ketika mengukur arus atau tegangan yang melewati batas kemampuan multimeter ini, jadi jika pas digunakan jarum pada multimeter tidak bergerak bisa berati baterai yang digunakan sudah rusak atau mulai habis, untuk gantilah baterainya
  • Cara menggunakan Multimeter untuk mengukur hambatan [ohm]

Set knob pada multimeter pada posisi ohm atau hambatan [ resistansi], dan tempelkan kabel probe merah pada salah satu ujung komponen yang akan di ukur hambatannya dan kabel probe hitam pada ujung komponen yang lain, untuk lebih aman, set dulu knobnya pada jenis hambatan skala yang tertinggi pada multimeter, lalu kalau gerak jarumnya sedikit atau tidak signifikan, bisa di turunkan atau set ke skala ohm yang lebih kecil secara bertahap, posisi multimeter dan hambatan yang akan diukur mesti paralel.

Jika manggunakan multimeter digital, pengukuran hambatan akan sangat mudah karena nilainya akan langsung terbaca pada display LCD.




  • Cara menggunakan multimeter untuk mengukur tegangan [volt]
Set knob pada multimeter pada posisi volt atau tegangan, tegangan biasanya terdiri dari jenis tegangan direct current (DC) dan alternate current (AC), mesti kita ketahui sumber tegangan yang akan kita ukur supaya tidak salah mengatur knob pada multimeter, misalnya tegangan DC yang bersumber dari baterai, power supply DC dan sebagainya maka set knob multimeter pada posisi DC biasanya diberi label huruf “V” dan ada garis lurus di sampingnya, serta kalau akan mengukur tegangan AC, maka set knob pada multimeter pada tegangan AC, biasanya diberi label huruf “V” dengan tanda sinus atau gelombang sinus di sampingnya, dan set lagi di skala terbesar, hal ini untuk jika tidak mengetahui seberapa besar sumber tegangan yang akan kita ukur, lalu jika ternyata tegangannya cukup kecil bisa kita perkecil skala pada knob di multimeternya, untuk mengukur tegagan.

Cara menggunakan multimeter untuk mengukur tegangan, posisi multimeter harus paralel dengan sumber tegangan, dan jangan lupa tempelkan probe hitam pada kutub negative dan probe merah pada kutub positif pada sumber tegangan yang akan di ukur.


  • Cara menggunakan multimeter untuk mengukur arus [ampere]
Set knob pada posisi arus di multimeter, biasanya diberi label huruf “A” dan ada garis lurus atau garis lurus patah-patah, lalu set pada skala terbesar dalam range arus tersebut, kemudian tempelkan probe hitam pada salah satu komponen yang akan di ukur arusnya, dan tempelkan probe merah pada komponen lainnya, tetapi buat seri antara posisi sumber tengan posisi multimeter, karena kita mengukur arus maka posisi ini berbeda dengan posisi ketika mengukur tegangan atau hambatan.



Artikel Dari : Sekemaku.com

Cara mengukur Transistor

Cara mengukur transistor dapat dilakukan untuk mengetahui baik atau tidaknya kondisi transistor tersebut. Meskipun rata-rata rangkaian elektronika yang menggunakan transistor dapat bertahan lama, namun demikian banyak faktor yang menyebabkan transistor dalam kondisi tidak baik atau rusak.

Hal-hal yang dapat menyebabkan transistor rusak diantaranya salah pemasangan kaki-kaki basis, kolektor, dan emitor, atau kesalahan dalam desain rangkaiannya seperti pemberian tegangan bias transistor yagn terlalu besar, arus beban yang terlalu besar, dan lain-lain.

Kerusakan transistor terkadang dapat mengakibatkan resiko berbahaya, karena selain dapat merusak rangkaian lain, transistor yang rusak dapat meledak dan mengeluarkan bau asap beracun yang tentunya berbahaya bagi kesehatan. Ciri-ciri transistor yang mengalami kerusakan fatal biasanya ditandai dengan short-nya kaki basis, kolektor dan emitor. Baik itu short sebagian maupun semuanya.

Untuk mengantisipasi kesalahan dalam pemasangan kaki transistor atau terminalnya, maka salah satu caranya adalah degnan melakukan pengukuran terhadap transistor tersebut, cara mengukur transistor ini selain untuk mengetahui mana bagian kaki emitor, basis, emitor, dan mana kaki transistor yang rusak sehingga bisa mengetahui komponen transistor yang bagus untuk digunakan ataupun tidak.


Cara Mengukur Transistor Menggunakan Multimeter digital

Terdapat beberapa cara dalam mengukur kondisi transistor, cara mengukur transistor diantaranya dengan menggunakan multimeter analog dan atau multimeter digital. Namun cara keduanya sama saja, yakni untuk menentukan mana kaki basis, kolektor dan emitornya sekaligus mengetahui kondisi transistor tersebut apakah masih baik atau sudah rusak.


Cara Mengukur Transistor NPN

  • Pertama : persiapakan multimeter dan beberapa transistor, kaki atau pinnya ditandai supaya memudahkan mengingatnya.
  • Cara mengukur transistor NPN, Set multimeter pada transistor testing mode, atau mode testing diode.
  • Kemudian tempelkan terminal dari multimeter ke kaki-kaki transistor, untuk terminal positif (+) dari multimeter tempelkan ke kaki N (emitor) pada transistor dan untuk terminal negatif (-) dari multimeter tempelkan pada kaki N (kolektor) transistor.
Biasanya setelah ini dilakukan ada tampilan pembacaan pada layar multimeter, jika menghasilkan tampilan angka 1 atau angka selain 0 pada layar multimeter maka itu tandanya bahwa transistor yang kita ukur cukup bagus untuk digunakan atau tidak rusak, sedangkan jika yang muncul adalah 0 atau 000 maka cara mengukur transistor tersebut atau kaki-kakinya bisa saja ada yang rusak sehingga kurang bagus untuk di gunakan.

Cara Mengukur Transistor PNP

Cara mengukur transistor ini (PNP) tidak berbeda jauh dengan proses pengukuran pada transistor NPN, yaitu menggunakan multimeter digital.

Kaki-kaki terminal pada transistor di tandai untuk memudahkan dalam pengukuran ini (dalam contoh gambar karena penulis hanya mempunyai transistor NPN jadi di jadikan ilustrasi). Proses cara mengukur transistor PNP tidak berbeda dengan pada NPN yang dijelaskan pada proses sebelumnya.


Cara Mengukur Transistor Dengan Multimeter Analog

Di dalam cara menukur transistor yang menggunakan multimeter analog. Transistor yang kita pakai masih menggunakan transistor berjenis NPN (negatif-positif-negatif) dan PNP ( Positif-negatif-positif). Untuk tipe PNP ( Positif-negatif-positif), langkah pertama adalah atur posisi saklar pada multimeter pada posisi resistance atau hambatan pada skala yang terkecil sampai 10k, lalu tempelkan terminal merah / positif atau probe dari multimeter ke kaki basis dari transistor dan probe hitam / terminal hitam ke kaki emitor pada transistor.

Jika hal di atas sudah dilakukan maka, jika transistor bergerak ke kanan maka transistor tidak mengalami kerusakan dan cukup bagus untuk digunakan, lalu langkah selanjutnya adalah, pindahkan posisi probe hitam (negative) pada multimeter yang awalnya menempel ke kaki emitor menjadi ke kaki kolektor pada transistor, jika jarum masih bergerak ke kanan maka kondisi transistor cukup baik untuk di gunakan dalam rangkaian elektronika yang akan kita buat.

Sedangkan pada tipe transistor NPN tidak berbeda jauh, hanya saja kita tempelkan probe atau terminal yang berwarna hitam (negatif) dari multimeter ke kaki basis pada transistor, lalu terminal atau probe merah (positif) dari multimeter ke kaki emitor. Jika jarum pada multimeter analog bergerak ke kanan berati transistor cukup bagus untuk di gunakan, lalu tempelkan probe merah dari mulimeter ke kaki kolektor pada transistor, jika jarum pada multimeter bergerak ke kanan maka transistor baik untuk di gunakan. Demikian cara mengukur transistor.



Artikel dari: Skemaku.com.

Cara Mengukur Kapasitor dengan Multimeter Analog dan Digital

Cara mengukur kapasitor sama mudahnya seperti cara mengukur resistor. Cara mengukur kapasitor dapat dilakukan dengan multimeter analog atau multimeter digital. Kapasitor merupakan salah satu komponen elektronika yang berfungsi untuk menyimpan muatan listrik sementara. Itu adalah fungsi umum secara teknis, namun penggunaan kapasitor pada rangkaian elektronika ini sangatlah luas.
Seperti diketahui bahwa kapasitor memiliki berbagai jenis tergantung bahan dan sifat kapasitansinya. Perlu diketahui bahwa sebuah multimeter memiliki keterbatasan dalam pengukuran kapasitor yang memiliki nilai sangat kecil, contohnya untuk kapasitor dengan nilai kapasitansi 10nF akan sulit untuk diukur dengan multimeter biasa. Baik itu multimeter analog maupun multimeter digital.

Jenis Alat ukur khusus untuk mengukur kapasitor

Untuk mengukur kapasitas dari kapasitor dengan nilai yang kecil, ada alat ukur khusus yang dinamakan LCR meter atau kapasitance meter. LCR meter adalah salah satu alat ukur yang mempunyai fungsi sama dengan multimeter. Hanya saja LCR meter merupakan alat ukur khusus untuk mengukur komponen Resistor (R), Induktor (L), dan kapasitor (C). Alat ukur LCR meter dapat mengukur kapasitor dengan ukuran kecil dengan akurat.

LCR meter


Salah satu alat ukur lainnya yang khusus untuk mengukur kapasitor adalah Capacitance meter. Capacitance meter merupakan alat ukur khusus untuk pengukuran semua jenis kapasitor. Capacitance meter mempunyai tingkat akuransi paling tinggi dibandingkan dengan alat ukur lainnya untuk pengukuran kapasitor. Capacitance meter banyak digunakan pada pengukuran peralatan radio dan instrumentasi.
Capacitance meter


Cara mengukur kapasitor dengan LCR Meter

Cara mengukur kapasitor dengan LCR merupakan metode yang paling mudah untuk dilakukan, karena nilai kapasitasi dari kapasitor dapat langsung terbaca pada layar LCR meter. Namun ada hal yang penting pada cara mengukur kapasitor dengan LCR meter.


Langkah pertama cara mengukur kapasitor dengan LCR meter adalah tentukan perkiraan nilai kapasitasi kapasitor yang akan diukur. Hal ini mudah dilakukan dengan membaca angka pada badan kapasitor tersebut. Sebagai contoh, pada badan kapasitor tertulis 103, berarti nilai kapasitor tersebut adalah 10 nF. Artinya nanti setelah kapasitor tersebut diukur, maka nilai indikator pada LCR meter harus menunjukan 10 nF atau setidaknya mendekati. Jika nilai kapasitansi kapasitor yang diukur jauh melenceng dari nilai kapasitor yang seharusnya, maka dapat dikatakan kapasitor tersebut sudah rusak dan tidak dapat dipakai.

Cara mengukur kapasitor Elko dengan multimeter Analog

Cara mengukur kapasitor dengan multimeter analog dapat dilakukan dengan menggunakan bagian ohm-meter Ohm (Ω) . Namun perlu diketahui bahwa pengukuran kapasitor dengan multimeter analog hanya bisa dilakukan apabila nilai kapasitansi kapasitor bernilai 1 uF hingga ±2200 uF saja, mengingat keterbatasan sensitivitas dari multimeter itu sendiri. Untuk nilai 1 uF hingga 2200 uF rata-rata berjenis kapasitor elko (Electrolit Condensator). Sehingga cara mengukur kapasitor dengan menggunakan multimeter analog sangat cocok untuk kapasitor jenis elko.

Akan tetapi pengukuran kapasitor dengan menggunakan multimeter analog sebenarnya tidak sebatas pada kapasitor jenis elko saja. Jika ada kapasitor jenis lain, misalnya kapasitor mika atau tantalum yang mempunyai nilai diatas 1 uF dapat diukur dengan multimeter analog pada opsi ohm-meter.


Untuk langkah lebih jelas mengenai cara mengukur kapasitor dengan multimeter analog dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Cara mengukur kapasitor dengan multimeter analog

Pada gambar diatas terlihat jelas bahwa kapasitor yang masih baik dan dapat digunakan, ketika kedua probe multimeter dihubungkan, maka jarum skala pada multimeter seketika akan bergerak ke kanan dan kembali lagi ke kiri. Berikut kondisi apabila kapasitor rusak dan tidak dapat digunakan:


  • Ketika kedua probe multimter dihubungkan pada kedua kaki kapasitor, dan jarum skala multimeter tidak bergerak sama sekali.
  • Ketika kedua probe multimter dihubungkan pada kedua kaki kapasitor, dan jarum skala multimeter bergerak ke kanan secara penuh. Ini menandakan bahwa kapasitor mengalami hubungan pendek (short).
  • Ketika kedua probe multimter dihubungkan pada kedua kaki kapasitor, dan jarum skala multimeter bergerak ke kanan kemudian kembali ke kiri. Tapi tidak kembali full ke kiri. Hal ini menandakan bahwa kapasitor mengalami kebocoran (leaky).
Cara mengukur kapasitor Elko dengan multimeter Digital


Cara mengukur kapasitor dengan multimeter digital dapat dilakukan jika dalam multimeter digital tersebut terdapat opsi selektor untuk pengukuran capacitance (C). Jika pada multimeter tidak terdapat fitur untuk pengukuran capacitance, maka pengukuran nilai kapasitor tidak bisa dilakukan. Namun tidak perlu khawatir mengingat hampir semua multimeter standar memiliki fitur untuk pengukuran capacitance.

Akan tetapi perlu diketahui bahwa pengukuran nilai kapasitansi kapasitor pada multimeter digital biasanya terbatas, tidak seperti LCR meter yang memang dapat mengukur hampir semua nilai kapasitor.

Cara mengukur kapasitor dengan multimeter digital
Dari gambar diatas terlihat jelas bahwa cara mengukur kapasitor dengan multimeter digital sangat mudah. Yang perlu dilakukan dalam pengukuran menggunakan multimeter digital adalah; pertama putar selektor multimeter pada opsi capacitance (C). Biasanya opsi ini ditandai dengan tanda “C” atau simbol kapasitor.

Selanjutnya hubungkan kedua probe multimeter pada kedua elektroda kapasitor elko yang diukur. Maka seketika layar multimeter akan langsung menunjukan nilai kapasitansi dari kapasitor yang diukur. Seharusnya nilai yang tampil pada layar multimeter sama dengan nilai yang tertera pada badan kapasitor. Atau setidaknya nilai yang tertera pada multimeter mendekati.

Apabila nilai yang tampil pada layar multimeter digital melenceng jauh dari nilai yang seharusnya, maka dapat dipastikan kapasitor tersebut rusak atau bocor, sehingga tidak dapat digunakan.

Dengan penjelasan mengenai cara mengukur kapasitor dengan multimeter, anda sudah tahu bahwa mengukur dan menentukan apakah kapasitor masih baik atau tidak begitu mudah.


Artikel dari : Skemaku.com

Kode Warna Resistor dan Cara Membacanya

Kode warna Resistor: Sebuah nilai resistansi yang ada pada resistor ditentukan oleh kode-kode warna yang terdapat pada badan resistor tersebut. Jumlah gelang warna yang ada pada badan resistor pada umumnya yang beredar dipasaran adalah berjumlah empat warna dan lima warna, namun pada jenis resistor tertentu terdapat 6 warna.
Kode warna resistor yang ada saat ini sudah dikembangkan sejak tahun 1957 oleh bangsa eropa dan amerika yang pada akhirnya aturan mengenai resistor ini ditetapkan menurut standar EIA-RS-279. EIA ini adalah singkatan dari Electronic Industries Alliance, sebuah organisasi yang didirikan oleh RMA (Radio Manufacturers Association) dari amerika dan Eropa.

Menurut standar EIA-RS-279, kode warna pada resistor dibagi menjadi tiga jenis, yaitu resistor dengan kode 4 warna, 5 warna dan 6 warna. Di Indonesia, biasanya resistor dengan jenis film karbon memiliki 4 warna dan memiliki toleransi kisaran 10%, sedangkan resistor untuk jenis film metal memiliki 5 warna dan memiliki toleransi antara 1% hingga 5%.

Berikut adalah tabel kode warna resistor beserta nilainya:


Cara Membaca resistor empat warna:

Resistor dengan empat warna adalah jenis resistor yang paling banyak digunakan. Cara membaca resistor 4 warna sangat mudah, dengan menghapal kode warna yang ada, maka ketika sering membaca nilai resistor nantinya secara otomatis akan dengan sangat mudah membaca nilai resistor tersebut tanpa perlu berfikir lagi.




Kedua pita warna pertama pada resistor 4 warna menunjukan nilai dari resistansinya, sedangkan pada pita ketiga menunjukan faktor pengali atau jumlah nol yang digabungkan dengan pita pertama dan pita kedua. Untuk pita warna keempat menunjukan toleransi resistor tersebut. Untuk tabel kode resistor empat warna sebagai berikut:

Tabel Kode Warna Resistor 4 Warna

Sebagai contoh, sebuah resistor terdapat warna Hijau, Biru, Hitam, dan Emas. Berarti nilai resistor tersebut adalah:

Pita ke-1 : Hijau=5
Pita ke-2 : Biru=6
Pita ke-3: Hitam=100
Pita ke-4: Emas=Toleransi 5%.

Sehingga nilai resistor tersebut adalah 56Ω dengan toleransi ±5%.

Cara Membaca resistor lima warna:

Cara membaca nilai resistor lima warna tidak jauh berbeda dengan resistor empat warna. Resistor dengan pita 5 warna biasanya memiliki nilai resistansi yang lebih spesifik dan memiliki nilai toleransi yang lebih kecil seperti pada resistor jenis film metal yang rata-rata menggunakan pita 5 warna.


Pada resistor dengan pita 5 warna, ketiga warna pertama menunjukan nilai resistansinya, sedangkan pita keempat menunjukan faktor pengali atau jumlah nol, dan pita terakhir (pita kelima) menunjukan toleransinya seperti yang ditunjukan tabel berikut ini:

Tabel Kode Warna Resistor 5 Warna

Sebagai contoh, sebuah resistor terdapat warna Kuning, Ungu, Hijau, Hitam dan Coklat. Berarti nilai resistor tersebut adalah:

Pita ke-1 : Kuning=4
Pita ke-2 : Ungu=7
Pita ke-3: Hijau=5
Pita ke-4: Hitam=100
Pita ke-5: Coklat=Toleransi 1%.

Sehingga nilai resistor tersebut adalah 475Ω dengan toleransi ±1%.

Cara Membaca resistor Enam warna:
Membaca nilai resistor 6 warna sebenarnya hampir sama dengan cara membaca nilai resistor 5 warna, hanya saja ada penambahan satu pita warna lagi, yakni pita keenam yang menunjukan koefisien suhu dari resistor tersebut.



Sama seperti resistor dengan 5 warna, ketiga pita warna pada resistor 6 warna menunjukan nilai resistansinya, sedangkan pita keempat menunjukan faktor kali atau jumlah nol, pita kelima toleransi, dan terakhir pita keenam adalah koefisien suhu. Adapun tabel kode warna resistor 6 warna sebagai berikut:

Tabel Kode Warna Resistor 6 Warna

Sebagai contoh, sebuah resistor terdapat warna Kuning, Ungu, Hijau, Merah, Coklat dan Merah. Berarti nilai resistor tersebut adalah:

Pita ke-1 : Kuning=4
Pita ke-2 : Ungu=7
Pita ke-3: Hijau=5
Pita ke-4: Merah=10²
Pita ke-5: Coklat=Toleransi 1%
Pita ke-6: Merah=Koefisien suhu 100 ppm/°C

Sehingga nilai resistor tersebut adalah 475*10²=47500Ω = 47,5 kΩ dengan toleransi ±1% dan koefisien suhu sebasar 100 ppm/°C.

Dari semua penjelasan diatas, Untuk mempersingkat pembacaan nilai resistor secara umum dapat digambarkan seperti berikut:

Cara Cepat Membaca Nilai Resistor


Cara Membaca nilai resistor dengan kode angka

Selain dengan menggunakan sistem kode warna, resistor juga ditentukan dengan kode angka yang terdapat pada badan resistor tersebut. Jenis resistor yang menggunakan kode angka tersebut adalah jenis resistor wireround dengan daya 5 Watt keatas, resistor SMD, dan lain-lain.

Khusus untuk jenis resistor SMD, rata-rata memiliki toleransi yang sama, yaitu kisaran 5% dan hanya menggunakan kode angka tiga digit. Dua digit angka pertama menunjukan nilai resistansi, dan digit terakhir menunjukan faktor kali atau jumlah nol.

Berikut ini contoh nilai dari resistor SMD yang menggunakan kode angka:


Cara membaca nilai resistor dengan kode angka.

Dari gambar diatas terlihat bahwa untuk menghitung nilai resistor yang menggunakan kode angka adalah sangat mudah, contohnya:

102 = 10*100 Ω = 1000 Ω =1 kΩ atau 10 ditambahkan dua nol di belakangnya.


Pada resistor yang nilainya dibawah 1000Ω atau 1 kΩ, nilainya ditulis hanya dengan angka saja, misalnya nilai resistor 100Ω, maka ditulisnya 100 saja, yang artinya 10*1 = 10 Ω.

Demikian cara cepat membaca nilai resistor yang biasa digunakan pada semua rangkaian elektronika. Dengan sering latihan membaca nilai resistor, nantinya dalam membacanya sudah otomatis tahu tanpa perlu berfikir lagi atau melihat tabel.


Sumber artikel : Sekemaku.com

Cara Mengukur Resistor dengan Multimeter Digital Dan Analog

Cara mengukur resistor dapat dilakukan dengan cara, cara yang pertama dengan yaitu dengan menggunakan multimeter analog. Sedangkan cara kedua yaitu dengan menggunakan multimeter digital. Kedua cara tersebut dapat dilakukan dengan sangat mudah untuk mengetahui baik atau tidaknya sebuah resistor.
Selain untuk mengetahui baik atau tidaknya sebuah resistor, pengukuran dengan menggunakan multimeter juga bertujuan untuk mengetahui nilai resistansi resistor tersebut. Seperti diketahui, resistor merupakan komponen elektronika yang berfungsi sebagai hambatan listrik. Hambatan listrik ini dinilai dengan satuah ohm (Ω). Nilai hambatan listrik suatu resistor ditentukan melalui kode cincin kode warna yang menempel pada badan resistor tersebut.

Meskipun nilai resistor sudah tertera pada badan resistor melalui kode warna, namun kita tidak tahu apakah kondisi resistor tersebut masih baik atau tidak. Untuk itulah diperlukan pengukuran untuk mengetahui nilai dari resistor tersebut sekaligus mengetahui juga apakah resistor yang diukur masih baik atau tidak, karena resistor merupakan salah satu komponen yang penting pada rangkaian elektronika.

Cara Mengukur Resistor dengan Multimeter Analog

Multimeter analog terdiri dari jarum yang bergerak pada skala tertentu yang menunjukan nilai dari parameter yang diukur. Disebut multimeter karena alat ini mampu mengukur berbagai satuan tegangan, arus dan hambatan. Perlu diketahui bahwa multimeter memiliki batas ambang ukur dalam mengukur hambatan. Untuk itu dalam pengukuran hambatan pada multimeter terdapat beberapa pilihan opsi yang terdapat pada selektor tergantung nilai dari hambatan yang akan diukur. Opsi tersebut adalah R (Ω) x1, R (Ω) x10, R (Ω) x1K.

Berikut cara mengukur resistor dengan multimeter analog.

  1. Pastikan Multimeter sudah terkalibrasi. Cara mengkalibrasi multimeter ada pada postingan tersendiri.
  2. Lihat perkiraan hambatan yang akan diukur melalui cincin warna yang ada pada badan resistor tersebut, apakah 1 ohm, 10 ohm, 47 kohm dan seterusnya.
  3. Putarlah selektor multimeter pada posisi R (Ω) x1, atau R (Ω) x10, atau R (Ω) x1K tergantung perkiraan nilai hambatan yang akan diukur. Misalnya ketika resistor yang akan diukur bernilai 100 ohm, maka selektor dapat diarahkan pada R (Ω) x1 atau R (Ω) x10.
  4. Hubungkan atau tempelkan probe merah (+) dan probe hitam (-) pada masing-masing ujung resistor yang akan diukur.
  5. Setelah kedua probe dihubungkan, maka seketika jarum multimeter akan bergerak pada nilai skala tertentu. Kemudian lihat dan amatilah nilai angka yang ditunjukan pada jarum multimeter tersebut akan menunjuk pada nilai dari resistor tersebut.
  6. Jika jarum multimeter tidak bergerak sama sekali, berarti resistor tersebut rusak.


Cara Mengukur Resistor dengan Multimeter Digital

Multimeter digital merupakan sebuah multimeter yang dirancang menampilkan langsung nilai dari parameter yang diukur. Dengan kata lain multimeter digital tidak menggunakan jarum dan papan skala sebagai indukatornya. melainkan sudah menggunakan layar peraga LCD 7 segment. Multimeter digital sangat praktis dan cepat karena ketika dalam melakukan pengukuran, dalam hal ini yang diukur adalah resistor, maka layar LCD langsung menampilkan nilai dari resistansi yang diukur tersebut.

Cara mengukur resistor dengan multimeter digital sama seperti cara mengukur resistor dengan multimeter analog. Yaitu pertama kali putar selektor pada multimeter pada opsi R (Ω). Kemudian hubungkan kedua probe multimeter merah (+) dan hitam (-) pada kedua ujung resistor yang diukur. Maka seketika layar indikator multimeter akan langsung menunjukan nilai resistansi dari resistor tersebut.
Ketika nilai resistansi pada layar multimeter muncul, coba amati dan bandingkan dengan nilai resistansi dari resistor yang diukur. Nilai resistansi dari resistor dapat dicari dengan menghitung pita warna yang terdapat pada badan resistor. Jika nilai resistansi yang tampil pada layar multimeter sama, atau mendekati nilai dari resistor yang diukur, maka dapat dikatakan resistor tersebut dalam kondisi baik dan dapat digunakan. Sebaliknya jika nilai resistansi yang tampil pada layar multimeter melenceng jauh dari nilai resistor yang diukur, maka bisa dikatakan resistor tersebut rusak karena nilai hambatannya telah berubah.

Sebagai rangkuman, berikut salah satu contoh animasi cara mengukur resistor dengan multimeter analog dan digital untuk mempermudah pemahaman:
Demikian cara mengukur resistor dengan multimeter analog dan digital. Cara pengukuran keduanya sama-sama mudah. Namun salah satu kelebihan dari multimeter digital adalah dapat menampilkan nilai dari parameter yang diukur dengan lebih akurat daripada multimeter analog.

Sumber Artikel : skemaku.com



 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. ST.pro Audio. CCTV dan Computer - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger